|
Terbaru Lainnya 11.05.2010 Parlemen Indonesia curigai niat baik Israel
22.02.2010 BKSAP Sepakat Bentuk Panja MDGs
20.01.2010 Hidayat Nur Wahid Hadiri Sidang APPF ke-8
08.12.2009 Presiden Pagi Ini Buka Sidang APA
04.12.2009 Sidang Asian Parliamentary Asembly
04.12.2009 Indonesia Kembali Jadi Tuan Rumah Sidang Parlemen Asia
05.11.2009 Kaukus Anggota DPR RI untuk Palestina
05.11.2009 Hidayat: Israel Tidak Layak Jadi Anggota Lembaga Internasional
30.10.2009 HNW Siap Jamin Chandra dan Bibit
Telusur
Arsip Berita
| 1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
| 8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
13 |
14 |
| 15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
20 |
21 |
| 22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
27 |
28 |
| 29 |
30 |
31 |
|
|
|
|
|
Jumat, 21 November 2008 10:11:49 ¤ hit: 2937
Golput Bukan Faktor Gus Dur
Mengenai seruan Gus Dur untuk golput, Hidayat minta itu dicerna dalam perspektif positif. Seruan ini harus disikapi secara demokratis. Artinya, sikap yang diambil memperbaiki kinerja partai-partai maupun anggota DPR. “Dengan demikian, kita harus membuktikan bahwa partai dan DPR itu produktif , sehingga golput bukan pilihan realistis bagi rakyat,” katanya.
GOLONGAN putih (golput) atau golongan pemilih yang tidak menggunakan haknya pada pemilu 2009 diyakini bakal meningkat. Namun, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meyakini, itu bukan karena seruan Ketua Uum Dewan Syuro DPP PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Tahun-tahun sebelumnya, golput terus meningkat. Untuk 2009, masa golput tidak berkurang. Tapi bukan karena Gus Dur,” kata Hidayat, Kamis(20/11).
Angka golput terus meningkat pada pemilu-pemilu lalu. Pada Pemilu 1999, angka golput 11%, sedangkan pada Pemilu 2004 hampir 24%. Pada Pemilu 2009, diyakini lebih besar lagi. Indikasinya adalah meningkatnya angka golput pada sejumlah pilkada.
Mengenai seruan Gus Dur untuk golput, Hidayat minta itu dicerna dalam perspektif positif. Seruan ini harus disikapi secara demokratis. Artinya, sikap yang diambil memperbaiki kinerja partai-partai maupun anggota DPR. “Dengan demikian, kita harus membuktikan bahwa partai dan DPR itu produktif , sehingga golput bukan pilihan realistis bagi rakyat,” katanya.
Dia menambahkan, seruan golput ini menjadi semacam cambuk bagi anggota DPR dan partai. Ke depannya, partai-partai dan anggota DPR diharapkan menjadi pionir perubahan di Indonesia. “Ujung-ujungnya, nanti kan rakyat yang melihat kinerjanya,” kata Hidayat.
Sementara itu, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indra j Piliang mengatakan, seruan Gus Dur tidak akan menciptakan massa golput. Faktor Golput di Indonesia, kata Dia, terletak pada kinerja KPU dan lembaga-lembaga pemilu lainnya. “Faktor Gus Dur tidak besar,” kata calon anggota legislatif dari partao Golkar ini.
Massa golput Indonesia, imbuhnya, adalah massa yang sudah ada sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Kalau memang nanti fenomena golput bertambah dari 24% pada pemilu 2004 menjadi kira-kira 40% pada pemilu 2009, itu bukan karena faktor seruan Gus Dur. “Ini Sebuah gejala perpolitikan baru di Indonesia yang perlu dikaji penyebabnya,” kata dia.
Menurut Indra, seruan golput Gus Dur tidak baik bagi pendidikan demokrasi di Indonesia. “Seruan ini sangat negatif,” katanya. herry Sebelumnya |